Semua Yang Terjadi Di Sumatera Barat



Awal semester dua, kelas sepuluh SMA gue dan angkatan gue menjalani pengukuhan di Sumatera Barat, sebuah tradisi tahunan yang udah ada sejak lama. Tapi, gue sebagai makhluk tuhan, udah punya firasat buruk tentang acara ini. Dan benar saja, sesampainya di sana, gue sadar stock sempak gue kurang.

Sebelum berangkat dari Pekanbaru, kita semua ngumpul di lapangan tengah sekolah. Ibu kepala sekolah ngasih wejangan singkat, "Harus baik-baik di sana." Fast forward, gue udah di dalam bus, duduk di tengah, mengingatkan gue pada lagu D'Masiv, "Di Antara Kalian".

Jam 12 siang, kita mampir ke rumah makan. Makanan di sini, jauh lebih autentik dibanding yang di kota. Setelah makan, gue buru-buru naik ke bus lagi. Di perjalanan, teman gue yang duduk di samping mabok, dan dia pindah ke depan. Apakah karena naik bus atau karena aroma lavender dari ketek gue? Gue sih udah pake deodoran.

Mau gimana lagi, gue duduk sendirian, menikmati hamparan hutan hijau. Tapi keindahan itu segera digantikan oleh rasa kantuk, dan gue tertidur hingga sore. Bangun karena teman-teman gue heboh lihat gunung. Gue yang liat gunung itu langsung kagum... Sanggup percaya sama kebesaran Tuhan.

Sampai di Sumatera Barat jam 5 sore, tempatnya alam terbuka. Setelah upacara pembukaan, malamnya kita tidur di kemah. Tengah malam, gue kebangun, suasana gelap gulita. Gue ingin boker, tapi yang lain tidur, dan WC jauh. Gue tahan sampai pagi, takut kesasar atau hilang.

Keesokan harinya, lomba-lomba berlangsung dari pagi hingga sore, tapi malamnya, semua cowok kena hukum push-up karena katanya ada yang kotorin bak mandi. Baru 10 kali push-up, hujan deras turun. Gue ikut lari mencari tempat berteduh.

Karena kemah bocor, kita pindah ke balai adat. Saat panik cari teman, gue malah kebelet pipis. Gue minta temanin, tapi teman gue tolak. Heboh banget suasana, semua nyari teman sekelas. Di balai adat, gue nyari WC umum, dan ngurung diri di sana sejam

Gue balik dan coba tidur. Tapi jam 3 pagi, gue kebangun lagi kebelet pipis. Dengan flash HP, gue keliling area perkemahan. Gue jalan terus menyusuri kegelapan malam. Gue harus ke WC, kuntilanak atau apa pun gak penting lagi. Gue gak tau jalan, tapi area itu katanya mutar aja. Sampai di WC, gue rasa rame banget. Tapi pas gue keluar, cuma gue sendirian. Anak-anak lain hilang. Gue kembali ke balai adat, nyasar di tengah malam.

.

Area bumi perkemahan Istana Pagaruyung. Klik atau tap untuk memperbesar

Pagi berikutnya, kita siap-siap pulang. Gue cuci muka, gak mandi, langsung semprot body spray. Gue ganti sempak dengan celana pendek, terus kita pulang ke Pekanbaru jam 10 malam.

Malam itu gak bisa dilupakan. Sempak kurang, kebelet, titit mau meledak, dan kesesatan di tengah malam. Semua itu menyisakan rasa ngeri dan pertanyaan, "Apa benar cuma gue sendiri di WC itu?" Kenangan itu membekas, menambah cerita tentang perjalanan yang tak hanya menyenangkan tapi juga penuh misteri

Komentar

  1. ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬
    Gaya nulisnya asik. Tampilan blogmu juga bagus banget. :)
    ▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ஜ۩۞۩ஜ▬▬▬▬▬▬▬▬▬

    BalasHapus
  2. Wahh keren gan ceritanya....

    BalasHapus
  3. blognya udah keren semangat ngeblog
    jangan lupa belajar
    (soalnya lu ibaratnye adek kelas gw wkwkkw)

    BalasHapus
  4. menarik ceritanya, coba buat juga novel pendek. pasti keren

    BalasHapus

Posting Komentar